Koran dan Kekayaan Kata-kata Sastrawan



Oleh: Edi Miswar Mustafa

Dalam tulisan saya sebelumnya, sastra; yang bagaimana? (Serambi, 19 Oktober 2008), saya menulis – tidak cuma pada pementingan kepintaran berbahasa si cerpenis . Kemudian pada alenia berikutnya;  Mengukuhi gaya bahasa puitis nan murah kata adalah yang sastra sementara gaya hemat kata, bukan sastra, mungkin, sungguh tak berdasar. Karena suatu karya yang wahid ditentukan oleh kepaduan bentuk dan pada isi yang serasi.

Begitulah, karena beberapa kalimat ini sekian pesan masuk mempertanyakan. Tentunya begitu kontradiktif dengan julukan sastrawan yang dihaturkan pada mereka. Masa iya sastrawan punya kata-kata sedikit amat?

Katakanlah ini disebut apresiasi sastra dan mengutip kata-kata Pramoedya Ananta Toer, karya-karyanya adalah anak-anak nuraninya - biarkan ia bebas menghirup udara dunia - maka dunialah yang menentukan nasibnya. Karya itu ada yang besar namun juga banyak yang remeh temeh dan hal itu tergantung sisi pragmatisma, sisi pembacanya yang beraneka ragam punya penilaian.

Dalam antologi cerpen Perempuan Pala karya cerpenis Aceh yang sudah kukuh melekukkan jejarinya di level nasional, Azhari. Saya punya contoh cerita mini yang ia beri judul Menggambar Pembunuh Bapak. Saya akan menunjukkan keselarasan hakiki kesastraan dalam salah satu anak nurani Azhari. Di mana antara bentuk yang dipilihnya untuk mengungkapkannya kepada dunia demikian menyatukan isi hati yang khas dari pergulatan pengalaman si cerpenis sebagai seseorang yang lahir dari ranah ini.

Cerpen tersebut berkisah tentang seorang anak yang sedang melukis wajah pembunuh bapaknya di tanah pekarangan rumah. Berulangkali ia bersideku dan membersihkan ceceran bunga jambu karena wajah-wajah yang telah dilukisnya ternyata ia baru ingat bahwa wajah itu ada codet tetapi sialnya codetnya bukan di tempat yang telah ia bubuhkan goresan sebagai codet. Namun, semangatnya yang pantang menyerah. Ketika samar-samar ia bayangkan sang ibu yang telah dikata sebagai orang gila oleh orang di kampungnya.

Walhasil, ramuan ini sungguh-sungguh padat. Hanya memuat satu adegan dan kibasan atmosfir batin si anak sudah cukup dijadikan alasan penunjang hukum kausalitas mengapa ia berbuat seperti itu. Dan, jika hendak dibedah kaidah ala teorikus sastra dunia dari M. H. Abrams sekalipun, karya ini tetap dapat dianggap produk yang berhasil. Produk yang menjelaskan lingkungannya biarpun hanya bercerita dari sudut pragmatisma  –pembaca segera mendapat tahu asosiasi nilai-nilai kemanusiaan orang-orang Aceh ketika koran-koran bercerita bahwa ada sekian manusia-manusia hari ini yang terbunuh dengan tak ada perikemanusiaan.

Bayangkan seratus tahun kemudian ketika seorang guru bahasa dan sastra menginstruksikan; anak-anak mari kita melihat sejarah kelam bangsa Aceh dari cerpenis kelahiran tanah ini. Maka mimesisma, wujud kondisi Aceh ketika karya itu dilahirkan akan menyakinkan mereka bahwa perang sungguhlah laknat. Inilah nilai, yang memang takkah terendap oleh masa biar berbilang tahun. Mereka telah diberikan satu obor penerang bahwa perang memang menyakitkan maka jagalah perdamaian itu dengan setulus hati.

Azhari barangkali tinggal menunggu waktu seraya terus produktif dan pada saatnya layak mendapat tempat duduk dalam deretan pembela kebenaran dan kemanusiaan di bidang sastra (Marti Ahtisari di bidang perdamaian tahun 2008). Saya, mungkin juga pantas. Siapa pun pantas untuk itu, yang setidak-tidaknya membumikan damai bumi Aceh khususnya dan damai bumi seutuhnya harus terjamin abadi. Dan merunut pada ungkapan baru saya; banyak bandara menuju Saudi Arabia, tentunya, harus disikapi kalau Azhari naik haji lewat Bandara Sultan Iskandar Muda maka kita-kita bisa melalui bandara berbeda-beda pula. Seandainya Azhari naik haji setelah hidup berkeringat-keringat lewat pertanian maka kita bisa saja melalui laut, melalui dagang, melalui usaha memperkaya intelektualitas masing-masing.

Saya kira tak perlu ragu mengupayakan perdamaian melalui usaha menghasilkan ribuan karya. Jika pola yang dianut Azhari dengan karya-karyanya cenderung membuat benak anda terganggu dan sungguh berkesan, karena itu ikut saja dia ke mana arah berkarya. Namun, jika pola berkarya Saiful Bahri yang pembaca idolai oleh karenanya tak perlu sungkan-sungkan latah, lantak laju. Banyak media yang tanpa disadari akan mengasah dari proses usaha yang keras dan tak jemu-jemu.

Bahasa hanya media yang terkadang diperoleh dari contoh-contoh yang sudah ada. Realisma magis telah begitu menghinggapi Azhari sehingga unsur-unsur dari kesusastraan Amerika Selatan demikian kuat menggadangnya dalam berkarya. Demikian pun Saiful Bahri yang barangkali menyenangi karya-karya prosais Rabindranat Tagore, atau Kahlil Gibran. Keduanya harus diberikan tempat yang setara bahkan pun yang lain sehingga melalui bahasa dan media cetak atau eletronik, karena suara hati merekalah yang telah berwicara pada persoalan dunia.

Persoalan bahasa adalah persoalan kewarasan yang terkadang sering keliru ditafsirkan laksana anggapan keliru akan kualitas kain tradisional disepantarkan dengan kain produksi modern. Pemenangan tiap bahasa-bahasa yang bergaya berbeda di tiap tahunnya oleh Akademi Swedia mengejawantahkan hal itu. Di sana kreativitas dinilai tidak hanya dari segi produktifitas yang tinggi, tetapi upaya mengungkapkan dengan cara lain dari yang sama yang diperlukan sebagai bukti sastrawan adalah contoh yang terdiri dari ketakterhinggaan segala laku manusia lainnya.

Saya pernah senyam-senyum sendiri memikirkan apakah jadinya nobel itu kalau model karya yang dimenangkan dari tahun ke tahun terbaik hanya seperti gaya Azhari atau Saya atau Saiful Bahri yang terbit saban minggu di harian ini karena dianggap karya yang beginilah yang bernilai sastra. Tapi tidak demikian, setiap tahun panitia anugerah nobel selalu mengemukakan alasan mengapa seorang sastrawan diangkat tabik sebagai yang terbaik. Landasan mereka tak dapat dikesampingkan karena mengandung kebenaran-kebenaran yang memang takkan pernah mutlak sifatnya. Namun, biarpun berjarak jauh menyepadankan ihwal lokal dan internasional, saya pikir, di zaman global ini teritorial yang wilayah-wilayahnya absurditas ini hanya dapat diterjemahkan melalui kartu tanda penduduk. Karena inilah kebesaran dunia yang sehat dalam kelanjutan peradaban manusia.

Dari pemikiran ini tentunya dibuka ruang bagi penumbuhkembangan yang pedagogik, atau ke depan dapat dipetik bunga-bunga penulis baru yang harum di negeri ini. Substansinya adalah akan ada novelis Aceh aliran romantisma, novelis Aceh aliran ekspresionisma, novelis Aceh aliran realisma, novelis Aceh aliran naturalisma, dan lain-lain dari aliran sastra dunia. Dari dulu, kemarin, sekarang, dan mungkin ke masa di muka,  koran punya peranan penting membentuk riwayat wangi di mana suatu proses kelahiran sastrawan besar yang telah dapat diprediksikan dengan lahirnya beragam corak cerpen di media massa tanpa menelantarkan napak tilas dan konvensi bagaimana sastra seseorang itu. Maka jadilah yang maha di antara lainnya; seperti dalam hal logika karya, estetika karya, dan etika karya.

Seyogyanya, semenjak hari minggu kembali ceria dengan cerpen, puisi, dan karya-karya yang menghibur –setelah lama menghilang di tanah rincong ini– dari hari-hari lalu yang sudah lewat ternyatalah masih disamakan dengan penanggalan di mana hari minggu pasti angkanya diwarnai merah. Sastrawan yang kontradiktif dengan asumsi bahwa ia mesti kreatif, tetapi mungkin media massa harus juga kreatif sehingga hari minggu banyak karya-karya seperti beragam jenisnya bunga. Ibarat manusia sejati yang selalu kagum pada bunga.

Singkatnya, Pintar dan kayanya kata seorang sastrawan mengolah kata adalah sebuah kelumrahan. Lewat bahasanya ia akan menerbitkan nilai-nilai dari lubuk nurani terdalam dari muatan karyanya dan bukan hanya karya yang terkemas dengan plastik mengkilat, tetapi di dalam karya itu sendiri hanya berupa nilai-nilai yang tak selalu baru tapi yang itu-itu saja.





20 Oktober 2008


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pulang

Manohara

Tentang Pelamaran