Karya Sastra yang Maha



Oleh : Edi Miswar Mustafa
Dalam kesusastraan tidak ada yang nomor satu. Karena karya Yang Maha itu memiliki kelebihan dan kekurangan yang khas. Maha besar-nya sebuah karya hanyalah keterpaksaan pengklasifikasian. Ada karya-karya yang dianggap kurang berarti, ada karya-karya yang bernilai sedang saja, dan memang ada karya yang pantas disebut besar. Namun,  setiap karya yang pantas disebut karya besar harus memiliki beberapa nilai yang menjadi ciri dari kebesarannya.

Ciri yang pertama ialah sebuah karya yang besar harus mengandung kebenaran dan kejujuran. Kemudian ciri yang kedua ialah dapat memunculkan persoalan kemanusiaan yang tidak mengenal teritorial apakah itu persoalan dunia timur atau persoalan dunia barat. Sebab, karya sastra adalah milik dunia, kekayaan khazanah kebudayaan manusia. Ciri yang ketiga adalah bentuk teknik penyajian dan isinya yang baik: apakah gaya penceritaan, karakter tokoh, jalinan cerita, sehingga ketika karya tersebut usai dibaca mampu meninggalkan pesona yang senantiasa memarut benak pembaca. Sementara itu yang terakhir, yang dianggap sebagai karya yang memiliki ciri besar ialah punya sifat keabadian.
  
Seperti ilmu pengetahuan, kesusastraan juga suatu usaha untuk mencari dan mengungkapkan kebenaran. Dan sebuah karya besar yang mengandung kebenaran dan kejujuran biasanya lahir dari pengarang-pengarang yang tidak sok dan berlagak dengan mendesakkan kepalsuan dalam karya-karyanya. Sebab itu, kesederhanaan dan rendah hati si pengarang tak dapat dipungkiri akan jelas membayang pada karya. Kebalikan dari itu, sikap pongah, merasa pintar dan mencari ketenaran hanya akan melahirkan karya cap teri.

The Neclace atau Kalung karya Guy de Maupassant, salah satu contoh yang diakui nilai-nilai kemanusiaannya. Cerpen tersebut lahir di Perancis di era borjuis. Namun, pembaca yang berada di dunia timur atau dunia barat akan merasakan hal yang sama yaitu keharuan mendalam seusai membaca karya tersebut. Karena karya tersebut berbicara mengenai nilai-nilai kemanusiaan yang tidak dihinggapkan isme-isme apa pun.

Dari segi bentuk dan isi kerap terjadi keterpaksaan dari pertanyaan yang mana yang terbaik. Harry Aveling menagorikan penulis-penulis “Horison”, congkak, keras kepala, dan egois. Mereka selalu tampil dengan kekhasan masing-masing. Bukan hanya soal bagaimana menceritakannya dengan baik tetapi juga apakah yang diceritakan dengan baik tetapi juga apakah yang diceritakan pada kita itu sesuatu yang baru, otentik dan berguna bagi martabat kita sebagai manusia.

Cerpen-cerpen Hamsad Rangkuti oleh kepadatan berceritanya. Membaca karya-karyanya, seolah-olah kita akan melihat, membaui, dan mendengar apa yang terjadi di dunia tak nyata tersebut. Karakter tokoh-tokohnya begitu kuat dari segi psikologisnya, begitu wajar layaknya tokoh-tokoh yang ada karya-karya Anton Chekov, Umar Kayam, dan Azhari yang terdapat dalam kumpulan cerpennya “Perempuan Pala”. Kekhasannya yang lain berupa unsur konflik unik, penggambaran suasana. Celakanya, pada karya satu dan pada karya yang lain kekhasannya berbeda-beda karena kecenderungan pengarang memilah ketertarikannya di awal proses kreatifnya. Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananto Toer sangat menarik tetapi kita juga harus mengakui bahwa Saman dan Larung karya Ayu Utami juga sangat memesona.

Sebuah karya yang besar karena keberhasilan pemaparan jalan ceritanya, berhasil menyampaikan gaya berceritanya, berhasil menghidupkan tokoh-tokohnya, meskipun yang diceritakan sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Namun, karya yang bermutu tinggi bukan saja terhibur oleh penyajian ceritanya yang memikat, tapi sekaligus dapat memberikan sesuatu yang baru bagi kehidupan manusia. Pandangan hidup atau cara memandang kehidupan ini dengan cara yang baru, baik itu suatu yang belum pernah kita lihat sebelumnya, pengalaman hidup yang belum pernah kita alami walaupun sesuatu yang kenyataannya hanya ada di negeri nun jauh di sana tidak dengan cara yang polos menasehati atau sengaja menampak-nampakkan kebijaksanaan.

Memang, lahirnya karya-karya sastra ke muka bumi tak dapat dicegah apakah jadi bayi sastra unggul atau bayi sastra imbesil. Dari hasil pengalaman para pakar, karya temporer tak akan bertahan lama. Serial lupus misalnya, membuat pembacanya terpingkal-pingkal. Tetapi, siapa sekarang yang sanggup membaca karya tersebut jika tidak sebagai kenang-kenangan masa remaja dengan rambut jambul ala pemuda tanggung.
Karya sastra besar kebanyakan berbicara untuk zamannya dan mengambil masalah zamannya. Tetapi kebesarannya terletak pada kemampuan pengarang untuk mengangkat masalah zamannya menjadi masalah segala zaman. Warna kedaerahan, warna golongan, warna politik, warna sosial, warna kepercayaan akan menyempitkan wawasan sastra. Tetapi pengarang besar mampu mengatasi itu semua untuk mempersembahkan karyanya.


NB. medio 2009

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pulang

Manohara

Tentang Pelamaran